Ibu benar sudah saatnya aku berumah tangga, sudah cukup umur diriku dalam membahas pernikahan. Dan siang itu ibu tampak bahagia ketika kedatangan seorang tamu untuk membahas masalah pernikahan. Dia tetanggaku yang sengaja datang kerumah dengan maksud ingin melamarku. Dilamar menjadi suatu hal yang membuat ibu merasa bahagia dalam membahas topik siang itu. Aku yang sedang dikamar samar-samar mendengan percakapan ibu dengan seorang tamu tersebut. Mendengarr itu apakah aku harus bahagia atau merasa sedih? mengingat kejadian setahun yang lalu aku gagal menikah dan itu semua berawal dari perjodohan yang berakhir dengan pernikahan dia bukan denganku.
Ibu membuka pintu kamarku yang setengah terbuka, dengan raut wajah sumringah ibu bertanya kepadaku "bagaimana fit mas itu mau melamar mu, bagaimana jawabanmu?". pertanyaan yang membuatku harus mencari jawaban.kenapa lagi-lagi tetangga sendiri yang melamarku? apakah ini sebuah kebetulan? ataukah ini suatau jodoh yang dikirim Tuhan untukku? pertanyaan itu masih bergema dipikiranku. Perlahan aku menjelaskan kepada ibu, aku tak mengenal dekat siapa mas itu dan lelucon yang terjadi beberpa waktu lalu antara ibu dan dia tidak termasuk aku didalamnya dan aku tidak tau apa-apa yang berakibat seperti ini.
Aku sudah besar dan aku juga berhak menentukan pilihan hidupku mengingat pernikahan itu suci tidak untuk main-main dan aku satu untuk selamanya dalam menjalani sebuah rumah tangga. perlahan aku keluar kamar dan bersalaman dengan tamu tersebut. membuuhkan banyak pertimbangan sebenarnya, mas yang ingin melamarku usinaya terpaut jauh dengan ku. dia seusianya Masku yang sekarang menginjak usia pernikahan 13 tahun dan memiliki 1 orang anak. ya memang benar jodoh dalam pernikahan tidak mengenal usia, tapii itu menjadi salah satu pertimbanganku dalam menentukan dan tidak hanya itu kenyamanan dan rasa cinta yang aku miliki menjadi permintaan hati yang gak bisa untukku menggelaknya.
aku tak memberikan jawaban ya ataupun tidak, aku membutuhkan waktu untuk berpikir jernih dan sembari mencari pendapat kepada saudaraku (mas dan mbak). aku tak ingin salah dalam menentukan pilihan, ini pernikahanku dan aku tak ingin menikahi diriku saja melainkan menikahi keluargaku untuk lebih mengenal dan nyaman dalam menjalani kehidupan pernikahan.
sesekali ku melihat kearah ibu dan ibu nampk terharu. aku merasa biasa dalam menghadapi maslaha ini lagi dan aku tak ingin menjadi pengecut untu diri sendiri. aku membutuhan waktu hingga saatnya nanti aku siap dalam memberikan Jawaban. Si tamu mengerti dan memahami jawaban yang aku utarakan. dan beliau berpesan agar segera memberikan jawaban, aku hanya bisa menjawab aku tak bisa menentukan dengan cepat dan membutuhkan pertimbangan kemudian si tamu berpamit untuk pulang.
aku mengutarakannya kepada mbakku yang nomer 2 dan sepertinya dia ingin membantuku dalam memcahkan masalah ini. dengan memberitahu mbak iparku akhirnya mbak ipar menelponku dan ingin mengetahui kejelasan ceritanya. tak berselang lama mas dan mbak iparku datang kerumah untuk berbincang. ketika berbincang tak terasa air mataku keluar dengan terus mengalir. aku tipikal oarang yang melankolis dan entah kenapa setap kali aku curhat dan mendengarkan nasehat dari masku aku selalu mengeluarkan air mata. masku adalah pengganti bapak dan setiap keluhan terhadap pernikahan selalu aku share kepada beliau.
pertanyaan pernikahan yang terlontar dari beberapa orang terdekatku akan menjadi sebuah pertanyaan yang kerap kali menghantui pikiranku untuk selalu berpikir dengan keras.sebuah pertanyaan yang sebenernya tidak membutuhkan jawaban, dan sekali lagi jodoh, rejeki dan maut akan menjadi sebuah rahasia dan ketetapan ALLAH. Manusia sangat dianjurkan untuk berdoa dan berusaha dan apa yang menjadi petunjukNya akan menjadi sebuah rahasia yang suatu saat nanti bila sudah waktunya akan tau siapa yang akan menjadi pilahan dan juara dalam memenangkan dan menjadi imam dalam keluarga yang dibina. semoga menjadi yang terbaik ntukku selamanya. amiiiinnnn